Mengenal dan Menangani Penyakit Reumatik

PENYAKIT rematik sudah lumrah dan jamak terjadi di masyarakat terutama di daerah-daerah pengunungan. Menderita sakit nyeri sendi alias rematik itu memang sungguh menyiksa. Apalagi disertai dengan pembengkakan, kaku sendi, dan gangguan pergerakan. Munculnya kesakitan mengakibatkan terjadi hambatan melakukan pekerjaan.

Gejala rematik terkadang kurang dihiraukan dan dihilangkan dengan minum obat penghilang nyeri atau jamu antirematik yang dijual bebas. Penderita juga acapkali menunda melakukan konsultasi ke dokter. Padahal pengobatan yang cepat dan tepat merupakan keharusan untuk mencegah bahaya penyakit rematik ini. Masalahnya, perjalanan penyakitnya bersifat kronis dan fluktuatif.

Memahami penyakit rematik sangat penting sebab dikenal lebih dari 110 jenis. Semuanya menunjukkan gambaran klinik yang hampir sama. Akan tetapi, penyebab, patofisiologi dan penanganannya berbeda. Mengonsumsi obat atau jamu antirematik sembarangan akan mengakibatkan efek samping yang serius, di antaranya pendarahan saluran cerna.

Sering pasien harus masuk rumah sakit bukan karena penyakit rematik. Efek samping obat atau jamu yang diminum akan berpengaruh bila usia penderita sudah lanjut disertai pula dengan gangguan hati dan ginjal. Penyakit rematik yang paling banyak dijumpai adalah Artritis Reumatoid (AR), Osteoartritis (OA), dan Artritis Pirai (Gout). Jenis penyakit rematik lainnya misalnya Sistemik Lupus Eritematosus (SLE), dan penyakit Rematik Jaringan Lunak.

Artritis Rematoid(AR)

Artritis Rematoid adalah penyakit peradangan kronik sistemik pada sendi. Kelainannya ini berupa peradangan sendi perifer dan biasanya simetris. Penyebab utamanya belum dapat dipastikan. Tetapi faktor infeksi virus, bakteri, cuaca, genetik, usia, jenis kelamin dan psikologis besar pengaruhnya. Tidak jelas antigen apa sebagai pencetus awal sakit ini. Pembentukan faktor rematoid, suatu antibodi terhadap antibodi abnormal sehingga terjadi reaksi autoimun.

Gejala umum AR terutama mengenai sendi kecil dan simetris, misalnya sendi pergelangan tangan, lutut, kaki, siku, bahu, panggul, pergelangan kaki dan leher. Kelainan di luar jaringan sendi bisa ditemukan berupa nodul subkutan (nodul rematoid).

Diagnosis AR dapat ditegakkan apabila terdapat empat atau lebih kriteria berikut ini dan terjadi sedikitnya dalam enam minggu. Kaku sendi pagi hari minimal satu jam, radang pada tiga sendi atau lebih.

Radang pada sendi tangan, radang sendi yang simetris, Nodul rematoid, faktor rematoid positif, Gambaran radiologis yang khas. Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan umumnya pemeriksaan darah lengkap, Faktor Rematoid (FR), C reaktif protein. Pada pemeriksaan radiologis dapat terlihat pembengkakan jaringan lunak sekitar sendi, penyempitan ruang sendi, demineralisasi, osteoporosis, erosi tulang atau subluksasi sendi.

Penanganan AR secara terpadu ditujukan untuk mengurangi peradangan sendi, mempertahankan fungsi sendi, mencegah kecacatan dan memperbaiki kerusakan sendi. Sendi yang terkena peradangan perlu diistirahatkan misalnya dengan “splint”, mengurangi nyeri dengan pemanasan, hidroterapi dan terapi pengobatan.

Terapi Pengobatan meliputi pemberian obat penghilang nyeri dan antiinflamasi (OAINS), seperti: asetosal, asam mefenamat, ibuprofen, indometasin, ketoprofen, natrium diclofenac serta obat yang dapat mencegah progresivitas yang disebut obat remitif (DMARD): klorokuin, sulfasalasin, garam emas, metotrexat) yang dapat diberikan dengan sistem piramida, kombinasi dua jenis DMARD, atau kombinasi multi DMARD dengan sistem Step Down Bridging. AR dikatakan mengalami perbaikan apabila kaku sendi sudah berkurang tidak lebih dari 15 menit, nyeri sendi dan bengkaknya juga berkurang.

Osteoartritis (OA)

Merupakan kelainan degeneratif sendi dimana terjadi penipisan tulang rawan sendi dan pembentukan osteofit yang dapat menyebabkan gangguan fungsi sendi. Sendi yang terkena paling sering yaitu tulang belakang, panggul, lutut, pergelangan kaki dan tangan. Keluhan biasanya terjadi setelah usia 40 tahun berupa nyeri satu atau beberapa sendi. Nyeri dapat membaik setelah istirahat. Jika pada OA berlanjut dan memberat walau saat istirahat nyeri tetap terasa. Pada pemeriksaan fisik dapat dijumpai dengan atau tanda radang, terdengar krepitasi, sertapada keadaan lanjut dapat terjadi deformitas atau subluksasi sendi.

Penyebab pasti OA belum diketahui. Pada OA Primer faktor yang mempengaruhi di antaranya, keturunan, usia, trauma mekanis, atau kelainan biokimia tulang rawan. Sementara pada OA Sekunder banyak faktor yang menyebabkan di antaranya penyakit-penyakit kelainan metabolisme, kelainan tulang, peradangan sendi, kelainan pembekuan darah, ketidakseimbangan mekanis sendi serta pada pemakain kortikosteroid yang berlebihan. Diagonis dapat ditegakkan berdasarkaan gejala klinis dan pemeriksaan radiologis (penyempitan celah sendi, pembentukan osteofit/taji), sklerosis tulang sub khondral). Kelainan labolatoris bisa tidak ditemukan

Penatalaksanaan OA meliputi mencari dan mengkoreksi faktor penyebab, mengistirahatkan sendi, pemanasan, senam rematik dan pemberian obat analgetik (OAINS). Kortikosteroid tidak dianjurkan penggunaannya secara sistemik namun apabila dipandang perlu sebaiknya diberikan intraartikuler jangan lebih dari tiga kali dalam setahun pada sendi yang sama. Bila pengobatan gagal atau timbul kecacatan mungkin diperlukan tindakan operatif.

Artritis Pirai (Artritis Gout)

Artritis pirai atau gout disebabkan kelainan metabolisme asam urat. Terjadinya kelebihan kadar asam urat dalam darah (hiperurikemia) dan endapan kristal asam urat pada jaringan sendi terutama ibu jari kaki. Secara umum penanganannya dengan mengatur diet (rendah purin), istirahat sendi dan pengobatan untuk menghilangkan nyeri dan peradangan pada fase serangan akut. Pengobatannya antara lain dengan kolkisin, OAINS, dan kortikosteroid. Obat penurun kadar asam urat (allopurinol atau urikosurik) tidak diberikan pada fase akut. Sedangkan pasien dengan kadar asam urat tinggi dan telah rutin mendapat obat penurun asam urat sebaiknya tetap diberikan

Artritis rematoid, osteoartritis dan artritis pirai (gout) adalah beberapa jenis penyakit rematik yang paling sering dijumpai. Mengenal dan menangani rematik dengan baik memerlukan upaya jangka panjang dan pengertian serta kerja sama yang baik antara pasien, keluarga pasien dan dokter sehingga pasien tidak cepat putus asa dalam mengupayakan kesembuhannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s