MELIHAT DENGAN MATA KETIGA

Astrologi, di Tibet menjadi bagian dari tiap sendi kehidupan. Tak heran bila seseorang yang mempunyai bakat di bidang tersebut akan “digembleng dan dibentuk”, di antaranya dengan membuka mata ketiga. Lama Tuesday Lobsang Rampa, dalam Mata Ketiga (PT Gramedia Pustaka Utama, 2000), tak hanya menuturkan pengalaman tempaannya sebagai rahib, tapi juga mengajak kita mengenal segi-segi kehidupan masyarakat Tibet yang kekentalan spiritualitasnya jadi tampak “khas” di tengah kehidupan modern yang serba lugas.

Atap dan kubah-kubah keemasan di Potala gemerlapan terkena sinar matahari yang cerah. Sebuah layang-layang panjang dinaikkan dari atap Potala, pertanda hari pertama musim gugur. Beberapa menit kemudian, layang-layang dengan berbagai bentuk, ukuran, dan warna bermunculan di Lhasa. Di Tibet, menerbangkan layang-layang memang salah satu kegiatan paling menarik. Tak hanya bisa terbang amat tinggi, layang-layang besar dengan desain khusus itu bisa “mengangkut” orang.

Umumnya permainan anak-anak pun dirancang untuk memperkuat tubuh agar dapat bertahan terhadap tuntutan alam yang keras. Di musim panas suhu siang hari bisa mencapai 24 oC, tapi di malam hari anjlok sampai sekitar -4 o C. Jangan bayangkan kala musim dingin.

Permainan kami lainnya, memanah. Tentu sebagai pemeluk Buddha sasaran kami bukan makhluk hidup. Pelayan melemparkan sasaran dari tempat tersembunyi, jadi tak bisa diduga arah munculnya. Sedangkan dalam permainan lompat jauh, kami gunakan galah sepanjang 4 m. Latihan ini berguna untuk menyeberangi sungai. Yang tak kalah asyik, bermain jangkungan. Biasanya kami berdandan dulu sehingga penampilan kami serupa raksasa.

Direndam air “es”

Di negeri kami orang berfisik lemah bisa membahayakan orang lain. Maka, di daerah yang tinggi, misalkan 5.200 dpl, orang punya cara menguji kekuatan hidup bayi. Di daerah seperti itu, sering tampak iring-iringan kecil mengarak seorang bayi menuju sungai kecil. Sang nenek kemudian mengambil bayi itu. Dikelilingi ayah, ibu, dan keluarga dekat si bayi, pakaian si bayi dilucuti, kemudian sang nenek membenamkan tubuh mungil itu ke dalam air, sehingga hanya kepala dan mulutnya yang tampak.

Dalam air sedingin es tubuhnya akan berubah menjadi merah, lalu biru. Tangisannya yang seakan memprotes pun seketika berhenti. Ketika bayi itu kelihatan seperti sudah meninggal, oleh nenek yang sudah berpengalaman itu si kecil diangkat, dikeringkan, dan diberi pakaian. Jika ia bertahan hidup, itu adalah kehendak dewa. Jika meninggal, ia telah dibebaskan dari penderitaan di dunia. Cara tersebut bisa diterima di negeri yang amat dingin ini. Jauh lebih baik bayi itu meninggal daripada tumbuh menjadi orang cacat yang tak terobati, di negeri di mana bantuan medis sangat langka.

Satu bentuk kehidupan keras kami adalah terjaga selama 18 jam setiap hari. Orang Tibet percaya, tidak bijaksana tidur saat hari masih terang, karena setan-setan akan datang dan menangkap kami. Bayi-bayi, orang sakit, bahkan yang sekarat pun dibuat terjaga selama mungkin.

Kakak saya, Paljor, adalah salah satu contoh anak yang tidak cukup kuat untuk hidup di Tibet. Sebelum usia tujuh tahun ia telah meninggalkan kami menuju Tanah dengan Banyak Kuil. Saat itu Yasodhara baru enam tahun, dan saya empat tahun. Saya ingat bagaimana Petugas Kematian menjemput tubuhnya yang terbaring seperti butir padi kosong. Jasadnya dipotong-potong lalu diberikan kepada burung pemakan bangkai, sesuai adat kami.

Di Tibet jenazah tidak bisa dikuburkan di tanah karena tanahnya tipis dan berbatu karang. Juga tidak dikremasi, karena kayu sangat jarang sehingga harus diimpor dari India. Biayanya mahal. Dibuang ke sungai pun dilarang, karena mencemari air, sumber air minum bagi yang masih hidup. Satu-satunya cara, membuang jenazah ke udara dengan bantuan burung-burung pemakan daging.

Perkecualian berlaku bagi para lama dengan pangkat tertinggi, yang merupakan reinkarnasi dari roh-roh sebelumnya. Jenazah mereka dibalsem dan ditempatkan dalam kotak dengan tutup dari kaca sehingga bisa terlihat. Kotak itu disimpan dalam kuil. Ada juga yang setelah dibalsem dilapis dengan emas.

Ada pengalaman menarik saat saya sudah menjadi lama. Saat mengantar jenazah seorang lama inkarnasi ke Bangsal Para Inkarnasi, ada kekuatan aneh yang membuat saya terpesona dan tertarik pada salah satu patung di situ. Patung itu seakan menatap saya dengan senyuman akrab. Ternyata, menurut Lama Mingyang Dondrup, pembimbing saya, tokoh yang ditampilkan patung itu, saat hidupnya adalah inkarnasi saya yang terakhir.

Pus yang terhormat

Kami belajar di rumah bersama anak para pelayan, di ruang kelas. Namun saya harus belajar lebih keras, apalagi setelah kematian kakak lelaki saya. Menurut ayah dan juga menjadi sikap resmi di negeri kami, semakin tinggi derajat seorang anak, semakin berat pendidikannya. Alasannya, anak miskin tidak punya harapan untuk hidup senang di kemudian hari, maka berikanlah kepadanya kebaikan dan perhatian selagi muda. Sebaliknya, anak kalangan atas harus dididik dengan keras agar ia bisa merasakan susahnya kehidupan dan nanti menunjukkan perhatiannya pada yang lain.

Ayah saya memang tokoh terkemuka dalam Pemerintahan Tibet. Keluarga Ibu pun termasuk sepuluh keluarga tingkat atas di Lhasa. Jadi keluarga kami cukup berpengaruh di negeri ini. Namun kami jarang bertemu Ayah. Ketika itu Tibet memang sedang dalam masa sulit. Karena serangan Inggris tahun 1904, Dalai Lama mengungsi ke Mongolia. Ayah dan pemimpin lainnya di kabinet mengambil alih pemerintahan. Baru lima tahun kemudian Dalai Lama kembali ke Lhasa, setelah berkunjung ke Beijing. Namun setahun kemudian, Cina yang terinspirasi oleh keberhasilan penyerbuan Inggris, menggempur Lhasa. Dalai Lama mengungsi lagi, kali ini ke India. Pasukan Cina berhasil diusir dari Lhasa tahun 1911, selama masa revolusi Cina. Baru tahun 1912 Dalai Lama kembali ke Lhasa.

Kami belajar bahasa Tibet dan Cina. Ada dua macam bahasa Tibet, yang biasa dan yang halus. Bahasa Tibet biasa untuk berbicara dengan pelayan atau yang derajatnya lebih rendah. Sedang yang halus digunakan bila bercakap dengan yang sederajat atau yang lebih tinggi.

Kuda milik orang yang berderajat lebih tinggi pun harus disapa dengan hormat! Kucing kami, bila sedang berjalan melintasi halaman untuk suatu keperluan, akan disapa oleh pelayan, “Apakah Pus Pus yang terhormat berkenan datang dan minum susu yang hina?” Jawabannya? Biasanya “Pus Pus yang terhormat” itu tidak akan datang sampai ia merasa haus.

Di kelas kami duduk bersila di lantai, di meja, atau di bangku panjang setinggi 45 cm. Kami duduk membelakangi guru, sehingga tidak tahu kapan ia melihat ke arah kami. Masa itu di sana kertas dibuat secara manual sehingga sangat mahal, jadi sayang bila dipakai untuk anak-anak. Sebagai gantinya, kami menggunakan papan tipis berukuran 30 x 35 cm. Penanya berupa kapur dari perbukitan Tsu La, sekitar 3.600 m lebih tinggi dari Lhasa, sementara Lhasa saja sudah 3.600 m dpl. Warnanya berbagai macam: merah, kuning, biru, dan hijau, beberapa karena kandungan bijih logam di dalamnya.

Dalam pelajaran mengukir, saya termasuk lumayan karena memang saya menyukainya. Semua barang cetakan di Tibet terbuat dari papan-papan kayu yang diukir, sehingga kemampuan mengukir merupakan aset tersendiri. Begitupun kami tidak boleh boros dengan kayu.

Namun satu pelajaran yang harus saya pelajari dengan susah payah adalah berkuda. Keterampilan ini amat penting, karena di negeri ini tidak ada kendaraan roda dua. Kami bepergian dengan berjalan kaki atau berkuda. Anak-anak kalangan atas dilatih menunggang kuda bahkan sebelum dapat berjalan! Berkat latihan selama berjam-jam setiap hari, kaum bangsawan Tibet bisa berdiri di atas pelana kayu yang sempit di atas kuda yang sedang berlari, sambil menembakkan senapan pada sasaran bergerak, lalu mengganti senjatanya dengan busur dan anak panah. Kadang para penunggang kuda yang sudah ahli membentuk formasi tertentu, saling bertukar kuda dengan melompat ke pelana rekannya. Tapi saya, pada umur empat tahun, bertahan duduk di pelana saja kesulitan!

Terbenamnya matahari ditandai dengan bunyi terompet biara. Para pengemis berdatangan antre untuk menerima pembagian makan malam. Semua bangsawan berpengaruh menyediakan jatah bagi kaum miskin di distrik mereka masing-masing.

Di Tibet mengemis bukan sesuatu yang hina. Banyak rahib mengemis dari biara ke biara. Itu praktik yang diakui, dan tidak dianggap lebih buruk daripada usaha mengumpulkan dana di negara lain. Bahkan memberi makan seorang rahib yang sedang dalam perjalanan dianggap kebajikan. Namun mengemis pun ada aturannya. Jika baru mendapat sedekah dari seseorang, pengemis itu tidak akan mendatanginya lagi dalam jangka waktu tertentu.

Selain pengemis, para narapidana dalam keadaan terborgol ikut datang, karena di Tibet juga ada penjara. Para napi itu keluyuran di jalanan untuk mengemis makanan. Mereka tidak dipandang rendah, tidak dianggap sebagai sampah masyarakat, dan tetap diperlakukan dengan layak.

Astrologi sepanjang hidup

Percayakah Anda kalau masa depan saya sudah ditentukan di usia tujuh tahun? Saat itu saya diramal hendak menjadi apa nanti. Tentu dengan astrologi.

Demikian pula untuk urusan pemerintahan. Sejak tahun 1027 semua keputusan penting di Tibet diambil dengan bantuan astrologi. Serbuan Inggris tahun 1904 telah diramalkan dengan tepat, yang ditulis sebelum tahun 1850. Beberapa peristiwa lain adalah Penyerbuan Cina ke Tibet tahun 1910, revolusi Cina dan pembentukan Pemerintah Nasionalis 1911, pengusiran orang-orang Cina dari Tibet di akhir 1911, perang antara Inggris dan Jerman 1914, Dalai lama meninggalkan kehidupan ini 1933, kembalinya Inkarnasi Dalai Lama yang baru 1935, dan tahun 1950 “kekuatan jahat akan menyerang Tibet” terbukti dengan serbuan orang-orang komunis ke Tibet tahun itu.

Untuk itu Ibu mengadakan pesta besar-besaran dengan mengundang kaum bangsawan dan berpangkat. Tanggal pesta sudah ditetapkan. Undangan sudah ditulis oleh rahib penulis di kertas undangan tebal. Kurir khusus disewa. Setiap kurir mengendarai kuda keturunan murni, dan masing-masing membawa tongkat yang ujungnya terbelah dua untuk menjepit undangan. Tongkat itu dibalut replika jubah perang keluarga dan dihiasi tulisan doa-doa yang berkibar-kibar.

Selain mengirimkan berita tertulis, para kurir juga membawa undangan versi lisan yang berbeda. Dulu kurir-kurir ini seringkali menjadi sasaran bandit. Setelah mengganti berita tertulis yang dibawa kurir, mereka menjarah rumah yang tidak terjaga atau menyerang arak-arakan para undangan. Maka menulis berita menyesatkan sudah jadi kebiasaan dan versi lisan selalu diterima sebagai yang benar. Apalagi cara ini sering bisa pula untuk menjebak para bandit.

Makanan disiapkan dalam jumlah banyak. Tibet adalah “kulkas alamiah”, karena cuacanya amat dingin dan kering. Makanan dapat disiapkan dan disimpan sampai lama tanpa khawatir berubah rasanya. Daging awet bisa tahan sampai satu tahun, sementara biji-bijian sampai ratusan tahun.

Tsampa, makanan utama kami, dibuat dari semacam gandum. Meski membosankan, ada orang yang hanya makan tsampa dan minum teh sejak mereka pertama kali makan sampai akhir hidupnya. Tsampa itu sangat mengenyangkan sehingga amat membantu dalam mempertahankan kehidupan di berbagai ketinggian dan kondisi.

Umat Buddha tidak membunuh, maka daging yang tersedia hanya dari hewan yang jatuh dari tebing atau mati karena kecelakaan. Tempat penyimpanan kami penuh daging macam itu. Dua rahib keluarga kami biasanya mendatangi bangkai hewan itu, berdoa bagi jiwa yang pernah menghuninya. Kepercayaan kami, manusia yang memakan daging hewan berutang pada hewan itu. Utang itu dibayar dengan meminta rahib berdoa agar hewan itu bereinkarnasi ke status yang lebih tinggi di kehidupan berikutnya.

Mereka juga berdoa bagi hewan lainnya. Misalnya kuda-kuda kami agar tidak kelelahan bertugas. Kuda kami memang tidak pernah bekerja dua hari berturut-turut. Hewan di Tibet bukan hewan klangenan, juga bukan budak. Sebagai makhluk hidup yang berguna dan memiliki tujuan hidup untuk mengabdi, mereka memiliki hak sebagaimana manusia.

Kedua rahib kami itu disebut rahib rumah tangga. Mereka berdoa tiap hari agar segala kegiatan kami selalu dilimpahi berkah (bangsawan yang lebih rendah memiliki satu rahib). Sebelum melakukan hal penting, mereka dimintai nasihat dan doa. Setiap tiga tahun para rahib kembali ke biaranya untuk diganti yang lain.

Sekarang kembali pada acara ulang tahun saya yang ke-7. Hari H itu pun tiba.

Tungku dupa keemasan menyebarkan asap tebal yang wangi. Wanita-wanita tua menunggui tungku-tungku itu sambil memutar roda doa yang berderit-derit. Setiap putarannya mengirimkan ribuan doa ke surga. Para rahib astrolog akan mengucapkan ramalannya.

Orang-orang berkumpul, duduk di bantal berukuran 60 x 15 cm dengan tebal 22 cm. Kami tidak duduk duduk di kursi, tapi bersila di bantal-bantal persegi. Semua memasang telinga.

Ha-le! Ha-le!” (Luar biasa! Luar biasa!) seru para hadirin.

Inilah ramalannya. Saya akan memasuki biara, lalu akan dididik menjadi rahib ahli bedah. Penderitaan berat mengadang. Saya harus meninggalkan tanah air dan berkumpul dengan orang-orang aneh. Ramalan itu amat berbeda dengan keinginan saya menjadi penerbang layang-layang profesional atau setidaknya tukang perahu. Layang-layang dan busur mainan saya yang berbulu indah dipatahkan. Karena dianggap sudah dewasa, saya tidak pantas lagi bermain-main. Hati saya serasa ikut patah.

Beberapa hari kemudian, di pagi-pagi buta yang dingin pelahan-lahan saya meninggalkan rumah menuju Biara Chakpori, Kuil Pengobatan Tibet. Saya mengenakan jubah longgar sebagaimana umumnya orang Tibet. Bagian pinggang diikat erat lalu bagian atasnya ditarik hingga membentuk kantung untuk menyimpan barang bawaan sederhana. Ada tas kecil untuk gandum panggang, mangkuk tsampa dari kayu, cangkir kayu – padahal saya ingin mangkuk perak -, pisau pahat, dan tasbih. Saya berjalan sendirian dengan diliputi kesepian, ketakutan, dan sakit hati.

Mengingat dengan deretan laci

Seperti makna katanya, Chakpori berarti gunung besi, disiplin di biara ini pun sekeras besi. Saya yang masih tujuh tahun harus sekelas dengan calon-calon rahib berusia 17 tahun. Rasanya seperti orang kerdil di antara raksasa.

Hari kami dimulai tengah malam saat terompet ditiup. Terkantuk-kantuk kami menggulung bantal tidur dan meraba-raba dalam gelap mencari jubah, karena kami tidur telanjang, sebagaimana kebiasaan di Tibet. Kami pergi ke ruang doa dan melaksanakan kebaktian selama satu jam. Kebaktian berikut dimulai sekitar pukul 04.15, sarapan pukul 05.00, dilanjutkan dengan berkumpul di kelas pukul 06.00. Selanjutnya jadwal kami adalah mengikuti kebaktian dan belajar di kelas, berselang-seling selama beberapa jam. Hanya ada satu kali istirahat selama satu jam, pukul 15.00. Istirahat berarti kami harus berbaring diam, tidak boleh berbicara atau bergerak. Semua kegiatan baru berakhir pukul 21.30.

Sebelum diizinkan masuk biara, saya sempat diplonco selama tiga hari. Saya harus melakukan sikap semadi sepanjang siang, dan baru boleh berbaring di malam hari, di udara terbuka. Namun setidaknya ramalan karier itu “sedikit” memudahkan hidup saya di Chakpori. Setidaknya, saya dapat bertemu langsung dengan kepala biara dan lama pembimbing khusus saya, Lama Mingyar Dondup, di hari kedua di dalam biara.

Begitu berjumpa kepala biara, kepala berkuncir saya langsung digundul plontos. Proses pencukuran itu pun tak bisa dibilang ringan. Petugas menggunakan gunting besar seperti pemangkas tanaman untuk memotong kuncir saya. Saat pembantunya menarik kuat-kuat kuncir saya sampai saya hampir terangkat dari lantai, si pencukur memainkan gunting tumpulnya membabat kuncir saya. Itu belum seberapa. Tiba-tiba pembantunya mengguyur kepala saya dengan semangkuk air panas. Alasannya, agar rambut saya mudah dicukur.

Di Tibet kami diberi dua nama, yang pertama adalah waktu kelahiran. Karena lahir pada hari Selasa, saya dinamai Tuesday. Lobsang adalah nama pemberian orang tua (keduanya nama samaran – Red.). Saat masuk biara, seseorang mendapat nama rahib. Nama rahib saya, sebut saja Yza-mig-dmar Lah-lu. Pasti sulit diucapkan oleh orang di luar Tibet.

Di Chakpori saya belajar cara unik untuk mengingat. Sebagai calon tabib kami harus hafal nama dan segala sesuatu tentang berbagai tumbuhan, tahu bagaimana memadukan tumbuhan itu, dan cara menggunakannya. Kami harus tahu banyak tentang astrologi, dan mampu menghafal buku-buku suci di luar kepala. Tentu saja, kami tidak bisa membawa buku-buku kami karena ukurannya sekitar 100 x 46 cm.

Dalam melatih ingatan kami diminta membayangkan sedang berada di ruangan dengan deretan ribuan laci. Setiap laci diberi label yang tulisannya bisa dibaca dengan mudah dari tempat kami berdiri. Setiap informasi harus digolong-golongkan lalu kami harus membayangkan membuka laci yang benar dan menyimpan di dalamnya. Saat memerlukannya kami harus tahu lokasi dan membuka isinya dengan tepat.

Kami banyak belajar matematika, yang memang penting untuk astrologi. Pelajaran lain, yudo. Yah, sejenis yudo. Selain untuk perlindungan dan pengendalian diri, yudo memungkinkan kami menghilangkan kesadaran orang lain selama proses pengobatan, misalnya membetulkan tulang patah atau mencabut gigi. Anehnya, seseorang yang dibuat pingsan ketika berbicara, akan menyelesaikan kalimatnya waktu ia sadar kembali.

Tak kalah penting adalah belajar relaksasi. Menurut Lama Mingyar Dondup, “Contoh relaksasi terbaik adalah seekor kucing yang sedang berjemur atau beristirahat. Tidak ada yang bisa melakukannya dengan lebih baik lagi.”

Dahi dilubangi

Tepat sebelum ulang tahun kedelapan, Lama Mingyar Dondup memberi tahu bahwa menurut ramalan para astrolog hari setelah hari ulang tahun saya merupakan waktu yang baik untuk membuka mata ketiga saya. Dengan mata ketiga saya akan mampu melihat orang apa adanya. Bagi kami tubuh hanya wadah atau lapisan luar yang digerakkan oleh hakikat yang lebih dalam, yang akan mengambil alih saat kita tidur atau meninggalkan hidup.

Senja di hari ulang tahun saya, di ruang kecil tempat saya tinggal tiga orang lama tingkat tinggi, salah satunya Lama Mingyar Dondup, siap “menggarap” saya. Dengan alat, cara, dan ramuan tertentu mereka membuat lubang, benar-benar lubang, sampai kedalaman tertentu di tengah dahi saya. Mereka memasukkan sepotong kecil kayu yang sangat keras dan bersih. Kayu itu telah diramu dengan tumbuh-tumbuhan yang membuatnya sekuat baja. Potongan kayu itu dibiarkan ada di dahi saya selama 2 – 3 minggu. Sampai potongan itu diambil, saya wajib tinggal di ruangan ini dan hanya tiga lama itu yang mengunjungi saya.

Saat potongan kayu itu diikat agar tetap di tempatnya, saya segera mendapat pengalaman aneh pertama. Ketiga orang itu tampak diselubungi cahaya keemasan. Aura emas memang menandakan kehidupan suci yang mereka jalani.

Setelah indera saya lebih berkembang, saya kemudian mampu mengamati penampakan paling dalam. Saya bisa menentukan kondisi kesehatan seseorang melalui warna dan intensitas auranya, atau jujur tidaknya perkataan seseorang.

“Membaca” aura untuk Dalai Lama

Kemampuan itu membawa saya yang baru berusia 16 tahun masuk dalam kelompok elit lama di Tibet. Berkat kemampuan itu pula saya diundang Dalai Lama Ketigabelas, Sang Hakikat Terdalam di Potala. Potala merupakan kota mandiri di sebuah gunung kecil. Di sinilah jantung kehidupan, pusat seluruh pemikiran, dan harapan kehidupan Tibet.

Saya makin dekat dengan Dalai Lama, terutama sejak beliau mengetahui kemampuan saya “membaca” orang. Semua itu terjadi ketika tanpa sengaja saya bertemu delegasi Cina. Di mata ketiga saya, “Delegasi itu mempunyai niat jahat, karena warna aura mereka menunjukkan pengkhianatan.”

Berdasarkan pandangan itu, Dalai lama secara serius meminta saya mengamati delegasi yang berniat bertamu. Selama 3 – 4 jam saya tidak boleh sedikit pun bergerak. Dari tempat tersembunyi saya mengamati aura mereka berupa kilauan opal dengan bercak merah suram. Lingkaran-lingkaran pikiran mereka dipenuhi rasa benci. Ada berkas cahaya dengan warna tidak menyenangkan, tapi tercemar oleh warna-warna yang menunjukkan bahwa hidup mereka hanya dibaktikan pada materialisme dan tindakan-tindakan jahat. Menurut kami, itu bisa diartikan sebagai, “Kata-kata mereka bagus, tetapi pikiran mereka busuk.”

Saya juga mengamati aura Dalai Lama. Warnanya menunjukkan kesedihan. Sedih mengingat masa lalu saat masih di Cina. Ternyata benar. Pembicaraan mereka menjadi berlarut-larut dan berakhir dengan sia-sia. Delegasi Cina itu hanya berpikir agar keinginan mereka tercapai. Yakni memiliki wilayah dan kekuasaan di Tibet, dan … emas.

Emas memang menjadi daya tarik mereka datang ke Tibet sejak bertahun-tahun silam. Di Tibet ada ratusan ton emas. Tapi kami menganggapnya sebagai logam keramat. Kami percaya, tanah kami akan ternodai kala emasnya digali. Jadi emas itu tidak disentuh. Padahal dari sungai-sungai tertentu kami bisa mengambil gumpalan-gumpalan emas yang hanyut dari gunung. Di wilayah Chang Thang, saya pernah melihat emas di tepian sungai yang mengalir deras seperti pasir tersebar di tepi sungai biasa. Kami mencairkan gumpalan atau butir emas itu lalu membuat hiasan-hiasan untuk kuil. Logam suci dimanfaatkan untuk hal-hal yang suci pula.

Selain delegasi Cina, saya masih diminta untuk mengamati orang-orang asing dari Barat kenalan Dalai Lama. Orang-orang bijak kami telah lama menyadari, dunia Barat sangat ingin memiliki kekayaan Tibet. Mereka tahu bila orang asing datang, kedamaian akan lenyap. Ini terbukti, dengan datangnya kaum komunis di Tibet. Padahal kami tidak menginginkan kemajuan seperti dunia luar. Kami hanya ingin bermeditasi dan mengatasi semua keterbatasan tubuh fisik.

Mengingat manfaat ilmu saya, Dalai Lama ingin meningkatkan kemampuan saya, di antaranya dengan mengembangkan ingatan saya. Selama periode tertentu saya berbaring dalam keadaan tak sadar dan dihipnotis, sementara orang-orang membacakan kutipan-kutipan Kitab-kitab kami paling kuno.

Antara hidup dan mati

Setelah lulus ujian yang amat berat selama seminggu, masih ada inisiasi sebagai syarat yang harus dimiliki para lama, yakni inisiasi astral. Di dalam ruangan bawah tanah yang dalam sekali sehingga kami sebut “perut bumi”, saya duduk bersemadi di atas lempengan batu yang diapit dua peti mati. Dilanjutkan dengan berbaring. Mendadak tubuh saya menjadi kaku, tubuh saya seperti mati rasa.

Pengalaman ini sungguh terlalu kompleks untuk diceritakan. Namun singkatnya, saat itu saya merasakan sukma saya keluar dari tubuh. Saya merasakan sensasinya berada di antara realita kehidupan fisik dan roh. Misalnya ketika dengan sadar saya bergerak seperti gumpalan asap. Ada sinar di atas kepala saya seperti cawan emas. Dari bagian tengah tubuh saya bergantung tali perak biru yang bergetar memancarkan cahaya penuh vitalitas. Tali yang mengikat saya pada tubuh fisik saya.

Ketika kembali dari kesadaran astral itu, para penguji mengatakan, saya telah “tertidur” selama tiga hari! Saya lulus menjadi lama ketika usia saya baru 16 tahun.

Beberapa hari kemudian, saya mendapat panggilan dari Dalai Lama. Rupanya lima hari kemudian saya harus meninggalkan Tibet.

Saya sempatkan berpamitan pada kedua orang tua saya. Saya mendapat sambutan lebih dari sekadar tamu terhormat. Sore di hari terakhir saya menemui Dalai Lama untuk berpamitan dan mohon doa restu. Hati saya berat meninggalkannya. Saya tahu, lain waktu saya melihatnya lagi, beliau sudah tiada.

Pada hari yang ditentukan, pagi-pagi benar saat cahaya pertama muncul, kami berangkat dengan segan. Sekali lagi saya tidak punya rumah, pergi ke tempat asing, dan belajar lagi dari awal. Ketika mencapai jalan lintas gunung yang tinggi, kami menoleh ke belakang, dan lama memandang Kota Suci Lhasa untuk terakhir kali. Dari Puncak Potala sebuah layang-layang terbang sendirian. (Sht)

Active Channel
© Intisari Online
www.indomedia.com/intisari/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s