LUDAH DAN KERINGAT SAKSINYA

Hati-hati, Anda yang berniat untuk berbuat jahat, urungkan saja. Keringat, percikan ludah, dan serat pakaian Anda bisa menjadi saksi yang memberatkan untuk menjebloskan Anda ke penjara! Walaupun jalan menuju ke sana penuh liku seperti kisah para penegak hukum Jerman berikut ini dalam menguak tindak kejahatan.

 

Bagi Bettina Nussbaum pekerjaan di hari Selasa itu sebentar lagi berakhir. Tinggal beberapa masalah yang ada hubungannya dengan kepolisian. Saatnya membereskan berkas-berkas di meja kerja, setelah itu, dia ingin melakukan persiapan pesta hari ulang tahunnya dua hari lagi. Tiba-tiba terdengar panggilan, “Ada pertemuan penting! Harap berkumpul di ruang Soko!”

Jam menunjukkan pukul 14.00 lewat sedikit, ketika komisaris wanita berambut panjang itu memasuki ruang pertemuan yang sudah dipenuhi orang.

“Delik pembunuhan di Peine,” ujar pembicara dalam pertemuan itu, “Siapa pelakunya?”

Perasaan jengkel Nussbaum sekejap sirna. Sebaliknya, adrenalinnya meningkat cepat. Pesta ulang tahun harus dilupakan dulu. Di depannya sekarang ada kasus pembunuhan anak.

Bersama tiga rekannya, segera dia menyiapkan kopor berisi peralatan yang diperlukan. Tepat pukul 15.40, sebuah helikopter Puma dari kepolisian Jerman tiba menjemputnya. Heli langsung berangkat membawanya dari lapangan rumput di samping gedung A di kantor polisi bagian penyidikan kriminal itu, ke tempat kejadian perkara (TKP).

Banyak sudah kejadian yang disaksikan oleh Nussbaum dalam menjalankan tugas: puing-puing akibat serangan RAF, yang meninggalkan kengerian gempa bumi, misalnya. Korban-korban kecelakaan pesawat terbang Birgenair di Republik Dominika. Melihat jenazah sudah menjadi hal biasa. Namun, yang kemudian dia saksikan ketika helikopter yang membawanya tiba di Peine sekitar pukul 17.00, benar-benar pemandangan yang belum pernah dilihatnya sepanjang 10 tahun pengalamannya sebagai polisi!

 

Pasti ada kekeliruan!

Dekat tepi Danau Bagger, tergeletak potongan tubuh seorang anak. Torso, paha, serta kakinya berada di antara rerumputan yang sudah menguning dan tumbuhan semak. Sedangkan kepala dan lengannya terserak beberapa meter dari sana. Bagian-bagian tubuh itu dipotong dengan gergaji. Pemiliknya, masih berusia 13 tahun. Markus Wachtel namanya.

Pada hari Minggu sebelumnya, Markus memang keluar rumah untuk meminjam kaset video di rumah tetangga. Waktu itu orang tuanya sedang berpesta. Sejak itu, Markus tidak pernah kembali.

Tanpa bersuara para petugas langsung menomori tempat-tempat di mana ada potongan tubuh tergeletak. Setiap jengkal tanah dan rerumputan di sekitarnya diperiksa, kalau-kalau ada tanda-tanda atau materi yang ditinggalkan si pembunuh. Bisa tanda perlawanan, bekas-bekas saat mayat diseret, atau jejak kaki pelaku.

Apakah dia seorang psikopat? Apakah ini bagian dari pembunuhan berantai yang juga telah mencabut nyawa Yasmin Stieler (18)? Potongan tubuh gadis itu juga ditemukan di sekitar daerah itu.

Bagai astronaut yang sedang meneliti planet tak dikenal, para penyidik menyisir daerah itu dengan teliti. Sering mereka merunduk untuk mengambil tanah atau dedaunan lalu memasukkannya ke dalam kantung plastik. Percikan darah “disimpan” dengan menggunakan kapas dan bahan kain halus, serat-serat halus diambil pakai lembaran plastik atau alumunium foil. Jejak-jejak yang dicurigai direkam dan diambil dengan menuangkan gips.

“Kekeliruan (di pihak pelaku), betapa pun kecilnya, pasti ada!” kata Bettina Nussbaum, sang penyidik TKP dari kepolisian Jerman itu.

 

300 kasus setiap tahun

Staf penyidik TKP beranggotakan 32 orang. “Kami baru dijemput bila pelacakan macet,” kata Bernd Geide, pimpinan bagian khusus itu di Betonburg, Wiesbaden.

Panggilan alarm bisa tiba setiap saat, dan penjemputan dilakukan dengan helikopter, seperti pada tanggal 10 Maret saat ditemukannya mayat Markus Wachtel itu. Lebih dari 300 kasus mereka hadapi setiap tahunnya: dari pelacakan obat bius di mobil angkutan Balkan sampai pelacakan peluru di Bad Kleinen. Kadang mereka harus terbang ke luar kota atau daerah, seperti menyusul pengeboman terhadap PM Macedonia di Skopje.

Bila semua serat yang berada di bawah kuku tangan mayat sudah diambil dengan pinset, semua rambut yang tercabut secara tidak sengaja sudah diambil, dan setiap benda yang dianggap penting sudah disimpan dan dibawa ke Wiesbaden, tiba giliran para ahli laboratorium membuat para saksi bisu itu berbicara.

Di sebuah ruangan yang gelap terdengar dengungan alat Lexel Laser. Sinarnya yang transparan menyorot ke secarik kertas, tempat para pelnyidik memperkirakan adanya sebuah sidik jari. Dengan sinar biasa kertas itu akan tampak biasa-biasa saja. Tapi kini, komisaris berkaca mata pelindung warna hijau itu bisa melihat dengan jelas garis-garis alur sidik jari.

“Dulu, dalam kasus macam ini, para pelacak hanya bisa mengambil bekas sidik jari yang masih baru pada permukaan benda yang bisa menyerap,” kata Bettina. “Kini, dengan memasukkan kertas ke dalam sejenis cairan, kandungan asam amino sidik jari itu akan bereaksi.”

Di sampingnya ada sebuah ruangan beruap untuk melacak sidik pada pistol, pisau atau kemasan kecil obat bius. Caranya, dengan memasukkan objek itu ke dalam uap cyanacrylat. Perekat bantu itu akan memunculkan bekas keringat yang tertinggal pada permukaan objek. Jika ini belum cukup, barang bukti itu masih bisa dibawa ke ruang logam dan “diuapi” dengan lapisan emas dan seng yang sangat tipis, untuk memperoleh jejak kontrasnya. Hasilnya, mengagumkan!

Di atas robekan kardus air jeruk dari Supermarket Aldi, para ahli menemukan jejak sidik jari kedua pria yang berniat memeras uang sebesar DM 3 juta dari pasar swalayan itu. Rupanya, mereka merobek kardus itu ketika akan meletakkan bahan peledak di rak pasar swalayan.

 

Ada juga yang pintar

Kecerobohan telah dilakukan pejuang IRA, yang melemparkan granat ke arah penjara di Osnabrueck di Inggris. Mereka meninggalkan sidik jari pada botol bir dan wiski di penginapan. Sebuah sidik halus milik miliarder yang juga tukang tipu, Juergen Schneider, tertinggal di kaset audio yang dia pegang saat melarikan diri ke Florida, AS.

“Tentu ada TKP-TKP yang sudah keburu dibersihkan atau pelaku yang memang pandai,” kata pimpinan bagian kriminal, Bernd Geide, yang mantan pelacak obat bius. Dengan terkagum-kagum dia berkisah mengenai si “Dagobert” dengan kendaraan kereta apinya. Mereka tidak berhasil melacak satu jejak pun, walau sudah dilakukan penguapan sebanyak-banyaknya dan melacaknya sampai pada tanda pengenal mobil.

Meski berbagai metode telah diterapkan secara berturut-turut, jejak pada cat pelat nomor mobil tetap tidak tampak jelas. Yang tampak baru pada bagian tertentu berupa “jejak” keringat yang telah beroksidasi. Ternyata itu sidik milik teroris top, Christian Klar.

Memang, sidik jari merupakan jejak nomor satu yang selalu dicari oleh para pelacak. Sekitar 2,3 juta sidik jari kini tersimpan di dalam databasekepolisian bagian kriminal di Jerman. Hanya dalam beberapa menit, dari komputer bisa dikeluarkan daftar sidik jari yang dianggap paling mendekati sidik yang baru dipindai (di-scan). Meski untuk itu ada sekitar 100 ciri yang harus dicek para ahli.

 

Tidak sampai satu gram

Dengan sinar ultraviolet dari alat Crimescope Polylight yang bisa dibawa-bawa, bekas-bekas sperma pada jenazah bisa terlacak. Dengan “alat pengambil debu”, jejak-jejak kaki pada karpet bisa terdeteksi. Caranya, partikel debu diambil dengan menggunakan lembaran alumunium foil yang mengandung listrik statis. Kumpulan debu itu diserahkan para pelacak kepada Dr. Helmut Demmelmeyer, seorang biolog.

Dengan analisis termo-simultan dia memeriksa sifat lapisan dari partikel tanah tertentu. Dengan sebuah analisator khusus untuk benda kecil dia mengukur lingkar tanah itu. Di bawah mikroskop, pria ramah berwajah bulat ini memilah butir-butir darah dan lembaran rambut, sehingga bisa mengungkap identitas pembunuh.

Demmelmeyer adalah pimpinan penelitian kasus Klaus Geyer, yang dituduh membunuh istrinya. Ia memperoleh petunjuk pasti dari butiran tanah, yang terdapat pada sepatu karet Geyers yang diperiksa dengan menggunakan cara itu. Bersama dengan para ilmuwan dari kantor kriminal Niedersachsen, dia berhasil membuktikan kalau serpihan tanah dan lumpur memang berasal dari daerah hutan, tempat ditemukannya korban dengan kepala terpukul. Geyer kemudian dijatuhi hukuman delapan tahun penjara.

“Kami hanya memerlukan sangat sedikit materi penelitian, tidak sampai satu gram,” kata Demmelmeyer. Sebagaimana koleganya yang sama-sama berbaju lab putih, matanya berbinar saat dia tenggelam dalam dunia mikrokosmis dan molekul.

Alat lain, misalnya, mikroskop pemilah-elektron, para teknisi kriminal mampu membesarkan pecahan peluru yang terdapat pada mayat korban di layar monitor. Dalam kasus tabrak lari, dari bekas gesekan cat yang tertinggal, model dan tahun pembuatan sebuah mobil bisa diketahui.

 

Serat pun bisa bicara

Di bawah kilatan stroboskop komputer pelacak bisa mendeteksi semua serat halus yang menempel di seluruh bagian jenazah. Serat-serat halus yang menempel saat pelaku kejahatan kontak dengan korbannya kemudian dihitung dan diklasifikasikan. Metode yang butuh kesabaran dan ketelatenan ini terbukti pernah membebaskan seorang yang tak bersalah dari tudingan dalam kasus pembunuhan anak di Weimar. Penelitiannya sendiri makan waktu sampai setahun lebih, karena serat-serat halus yang terdapat pada mayat, kaus oblong, dan benda-benda di tempat tidur korban mesti diteliti semua. Akhirnya, si tertuduh, Monika Boettcher, dibebaskan.

Para ahli darah juga bisa “membaca” sisa-sisa cairan tubuh yang sudah membusuk. Contohnya, noda darah yang telah mengering yang diperoleh dengan mengerik dinding sebuah garasi di Langen, Offenbach. Padahal garasi itu sudah dilabur kapur, lalu dilapis lagi dengan batu beton gas! Namun rupanya, tidak ada sikat ataupun alat pemanas kekuatan tinggi yang bisa menghilangkannya. Dengan percikan ini bisa dipastikan, Jakub Fiszman si korban pembunuhan pernah berada di garasi itu, sebelum dia ditemukan terbunuh di Taunus. Rainer Koerppen (49), sang tertuduh pun tak dapat mengelak lagi.

Ini berkat metode penyidikan canggih paling mutakhir: yaitu analisis DNA. Dari satu sel tubuh saja bisa dilakukan pemilahan berbagai kode karakter pemiliknya.

“Dulu, untuk bisa memperoleh ‘sidik jari genetik’, dibutuhkan sejumlah besar darah,” kata Dr. Hermann Scmitter, ahli gen di kantor pusat kriminologi Jerman itu. “Kini, cukup dengan bahan yang jauh lebih sedikit.”

Cipratan air ludah pada selembar kertas, yang sudah mengering, selembar sisik kulit, yang tanpa disadari tergores, sehelai rambut berikut akarnya, sudah cukup untuk mengungkapkan profil gen pemiliknya.

Alat prosesor zat turunan bisa memperbanyak setiap reaksi berantai sampai ribuan kali bila materi pelacak sebelumnya sudah disebar. Di laboratorium Schmitters, para serolog sedang mengerumuni potongan-potongan pakaian. Dengan mikroskop mereka mencari cipratan air ludah atau sperma pada pakaian itu. Dengan pinset mereka meletakkan potongan pakaian dan serpihan sebuah puntung rokok ke dalam tabung percobaan, dicampur dengan cairan untuk mengambil sari dari substansi gennya. Mereka memakai sarung tangan dan penutup mulut agar material itu tidak terkontiminasi.

“Analisis DNA merupakan revolusi dalam teknik kriminologi, suatu loncatan jauh dalam usaha pembuktian,” kata Schmitter.

 

Harus berpikir jauh

Lebih dari 100 kasus sudah dipecahkan oleh Kepolisian Jerman dengan menggunakan metode DNA. Dewasa ini di Wiesbaden terdapat sebuah pusat data, yang menyimpan seluruh “sidik jari genetik” pelaku kejahatan di daerah itu.

Suatu impian baru dalam teknik kriminal: pelacakan raster sidik lewat kode gen, tidak terbatas pada pelaku kejahatan seksual saja tapi juga pada pelaku pencurian.

“Kami baru saja berhasil membongkar suatu komplotan kejahatan,” kata Dr. Hartmut Klein, yang berhasil membentuk Data-Gen di Rheinland-Pfalz, yang kini dijadikan model percontohan oleh Kepolisian Jerman. Juga di Inggris daftar kriminal yang berhasil dibekuk dengan bantuan “National DNA Database”-nya sudah sekitar 250.000 kasus!

Bagi Bettina Nussbaum, komisaris dari bagian penelitian TKP, siapa pembunuh Markus Wachtel harus segera terungkap. Dari Peine, dia tidak hanya membawa materi-materi pembuktian, juga gambar atau foto-foto potongan tubuh bocah itu.

Bagaimana dengan orang tuanya? Teman-temannya? Atau teman-teman sekelasnya? “Dalam tugas semacam ini, orang memang harus berpikir dengan penuh kecurigaan,” katanya pelahan.

Dalam perjalanan kembali, sama seperti rekan-rekannya, tenaganya terasa habis terkuras. Keinginannya hanya satu, tidur! Ada perasaan, tidak ingin melihat mayat lagi. (Wolfgang Metzner/Als)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s