KOMIK MATAHARI TERBIT DAN DUDUK PERKARANYA

Anime (film kartun) dan manga (komik) Jepang tidak mendidik? Tak adil rasanya mendiskreditkan animasi made in Jepang tanpa menyelami aspeknya secara paripurna. Kalau saja dilakukan pengamatan lengkap, vonisnya pasti tak akan seberat itu. Inilah inti tanggapan terhadap tulisan Andrian W.D. berjudul Kontroversi di Balik Film Kartunpada Intisari Juni 2001 dari yang mengaku pencinta berat kedua produk Negeri Matahari Terbit itu. Dengan ini polemik kita sudahi.

Sebelum menukik ke pokok masalah, diingatkan kembali bahwa komik dan kartun Jepang itu beragam spesifikasinya. Berdasarkan pangsa pasarnya, ada shounen, yakni animeatau manga bergenre (gaya: meliputi gambar, bahasa, penokohan) serta beralur cerita yang disesuaikan dengan selera cowok. Contohnya, “Dragon Ball”, “Ashita no Joe”, serta “King Of Fighter”. Ada shoujou, yang genre dan alur ceritanya disesuaikan dengan selera cewek, seperti “Sailormoon” dan “Throbbing Tonight”.

Klasifikasi lainnya, shoujou-shounen yang merupakan perpaduan kedua jenis anime dan kartun. Contoh, genrenya bisa saja shounen, tapi alur ceritanya shoujou, atau sebaliknya. Jadi, penikmatnya tak terbatas pada cewek atau cowok. Masuk kategori ini, misalnya, komik dan animasi “Rurouni Kenshin”, “Evangelion”, atau “PatLabor”.

Ada standar peruntukan

Anime dan manga juga dibedakan menurut tema. Mulai mecha (robot),fighting (pertarungan), adventure (petualangan), romance (percintaan), sampai dengan hentai (seks). Meski begitu dalam praktiknya, pada beberapa karya klasifikasi berdasarkan tema ini kerap tidak berlaku karena tumpang tindihnya unsur dan ide.

Misalnya, meski ide aslinya mecha, tapi mengandung juga unsurromanceadventure bahkan hentai. Berbagai klasifikasi tadi masih ditambah dengan batasan umur, yang bisa dilihat di awal pemutaran film. “Bill in Love”, contohnya, digolongkan untuk tontonan 21 tahun ke atas (biasa ditulis 21+), “City Hunter” (18+), “Evangelion” (13+), “PatLabor” (9+) hingga “Crayon Sinchan” (everyone).

Lazimnya, ketiga klasifikasi itu ada dalam setiap anime sehingga tercipta perpotongan klasifikasi satu dengan lainnya. Misal, “PatLabor” adalah film kartun bersifat shoujou-shounen, bertema mecha, dan dikategorikan untuk umur 9+. Sedangkan “Bill in Love” bersifat shounen, bertema hentai, dan dikategorikan untuk 21+.

Melihat kejelasan fakta tadi, mestinya penayangan animasi Jepang tertentu di televisi perlu mempertimbangkan beberapa hal. Langkah yang seharusnya dilakukan adalah menentukan jam tayang yang pas dan menampilkan sasaran peruntukan sebelum memutar film itu. Bila dirasa masih kurang sesuai dengan keadaan masyarakat kita, standar sasaran usia penontonnya bisa dinaikkan. “Crayon Sinchan” misalnya, golongan umurnya bisa ditingkatkan menjadi 13+.

Sayangnya, klasifikasi usia tampaknya masih terbatas buat anime, belum memasyarakat di manga. Kecuali komik beraliran hentai (porno), semacam “Yuri & Friends” (di sampulnya jelas ditulis 19+). Di Indonesia, terobosan menampilkan label umur ini sudah dilakukan oleh Dragon Production, yang menerbitkan serial “I’s”, “Ai Think So”, “Family Compo”, “Grooming Up”, dan sebagainya.

Di sisi lain, batasan yang jelas juga harus dibuat untuk menerangkan siapa masuk kategori anak-anak. Apakah mereka adalah semua yang masih bergantung pada orang tua, ataukah ada batasan umur tertentu. Misalnya, umur anak-anak diklasifikasikan 6 – 13 tahun, sedangkan remaja 14 – 17 tahun. Nah, batasan inilah yang dikaitkan dengan keterangan peruntukan komik dan film kartun buatan Jepang itu. Akan tampak aneh jika anak usia enam tahun menonton “Evangelion” atau seri “Gundam”.

Kalau tontonan sudah sesuai dengan umur, tapi si anak masih tidak memahami isi animasi, boleh jadi lantaran alur ceritanya yang berat dan “berbobot” (“PatLabor”, “X-Clamp”). Tak jarang ada juga orang tua yang tidak bisa dengan mudah menangkap alur ceritanya. Itu antara lain karena sebagian besar film kartun Jepang memang memasukkan unsur budaya yang jarang ditemui di Indonesia, seperti mandi bersama, ritual mengusir setan di kuil, atau melihat bunga sakura.

Ada sinyalemen, anime dan manga Jepang menjadi populer konon lantaran film dan merchandise alias barang-barang suvenirnya lebih dulu masuk. Namun dari amatan, justru komik yang mula-mula merebut hati para penggemar, baru kemudian versi filmnya. Fenomena ini kemudian ditangkap dunia bisnis untuk ikut memasarkan merchandise.

Jadi, suksesnya film kartun dan juga komik Jepang memang murni karena disukai pembaca dan penontonnya. Hal ini berkebalikan dengan pembuat film seperti Walt Disney yang selalu mengawali langkahnya dengan iklan bombastis, cerita sekuel, penjualan pernak-pernik, baru kemudian menerbitkan komik. Contohnya, “Aladin”, “Lion King”, “Mulan”, “Little Mermaid”, “Pinnochio”, dan masih banyak lagi.

Aliran meletat-meletot

Teknik gambar komik dan animasi Jepang pun amat bervariasi. Salah satu alirannya, gambar Sinchan yang meletat-meletot. Konon, itu memang sengaja dibuat untuk menunjukkan bahwa penyampaian pesan tak perlu menggunakan gambar yang rumit.

Teknik itu tidak bisa dibandingkan begitu saja dengan komik Barat, misalnya Walt Disney. Soalnya, keduanya merupakan dua jenis komik dan animasi yang berbeda peruntukan dan tujuan pembuatannya. Mulai kelas, ilustrasi, hingga alur cerita. Walt Disney mengutamakan keindahan, sedangkan Crayon lebih menonjolkan kekonyolan gambar.

Tokoh komik dan animasi Jepang sebagian besar manusia, minimal mendekati wujud manusia. “Kobo Chan” misalnya, sarat dengan unsur pendidikan, karena secara detail dan sederhana menampilkan kehidupan keseharian sebuah keluarga. Dari tema itu, muncul kisah yang logis, masuk akal. Secara imajinasi mudah dibayangkan, dan mungkin terjadi dalam keseharian.

Film kartun Jepang memang menampilkan kewajaran, seperti “Saint Seiya”. Memang tokoh utamanya digambarkan bisa berdarah-darah setelah dipukul lawannya. Atau juga “Gundam Wings” dan “Macross” yang banyak mempertontonkan kematian, sesuatu yang masuk akal. Hingga “Evangelion” yang sering menampilkan tokoh utamanya Asuka, Rei, ataupun Maya telanjang di kamar mandi; bukankah mandi memang harus telanjang?

Komik dan film kartun Jepang juga sering dituduh mengumbar adegan kekerasan. Padahal, banyak juga film Eropa atau Amerika seperti “Woody Woodpecker”, “Animaniacs”, “Looney Tunes”, “Tiny Tunes”, “Tazmania”, dan lain-lain yang sering menampilkan adegan sadis seperti memotong, menusuk, menginjak-injak, mencaci musuh, dan sebagainya, yang juga mengundang perilaku kekerasan?

Dalam anime Jepang, pembaca atau penonton sering menemukan idola yang tidak mereka dapati dalam kenyataan. Mereka juga bisa melihat ketidakadilan, kepengecutan tokoh utama, kesetiaan terhadap ideologi, bahkan sampai sisi baik tokoh yang jahat. Mereka juga belajar bahwa hidup ini penuh intrik dan perbedaan.

Kelebihan lain ditampilkan “PatLabor”. Film ini menampilkan salah satu kualitas film Jepang yang ceritanya semi-realistis, yang mengisahkan kemajuan teknologi robot. Walaupun cerita ini hanya khayalan si pengarang, namun mampu mendorong lahirnya kreativitas anak akan masa depan. Imajinasi di sini mengarah pada kemungkinan yang terjadi di masa depan, bukan imajinasi yang kekanak-kanakan.

Sesungguhnya, cukup banyak manfaat film kartun dan komik buatan Jepang. Meskipun adanya sejumlah film kartun yang tidak sesuai dengan nilai-nilai masyarakat kita, tentu tidak terbantah.

Salah satu jalan untuk mengatasinya adalah membuka dialog orang tua – anak tentang sebuah film kartun dan komik buatan mana pun. Semakin banyak argumen dan detail yang dikemukakan sang anak, semakin menunjukkan kedewasaan berpikirnya. Jangan biarkan anak-anak terus menjadi anak-anak, tapi persiapkanlah kedewasaan mereka dalam menghadapi kenyataan. (David Yacobus Hengkengbala)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s