GEDUNG TERTUTUP BISA MENYEBABKAN SAKIT

Benda bening alias kaca bisa berfungsi meredakan panas matahari yang masuk ke dalam ruangan. Apalagi bila ditambah dengan AC, udara akan terasa lebih nyaman. Tapi hati-hati ruangan tertutup ber-AC ini justru bisa menjadi “sarang” penyakit yang dikenal dengan sindrom gedung sakit.

 Simak gedung-gedung tinggi yang ada di Jakarta. Nyaris tak ada yang bebas dari unsur kaca. Bukan hanya jendelanya, sebagian dinding yang mengitarinya pun hampir sebagian besar memanfaatkan kaca. Dengan kaca sebuah bangunan atau gedung menjadi tampak “wah”. 

     Sejalan dengan perkembangan disain arsitektur bangunan yang mengarah pada bentuk-bentuk kontemporer, seperti bentuk-bentuk lengkung, maka kaca pun dituntut untuk bisa memenuhi keinginan tersebut. Penggunaan kaca lengkung untuk bangunan meliputi baik untuk interior maupun eksterior, seperti bentuk muka bangunan, sudut bangunan/jendela sudut, lemari panjang, perabot rumah tangga, dan dekorasi interior.

     Kini, kaca telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan arsitektur modern. Terbukti, dengan keragaman dimensi dan ketebalan para perencana bangunan mendapatkan keleluasaan untuk berkreasi dengan dinding-dinding atau jendela-jendela yang besar.

Mengatur sinar

     Tak hanya berfungsi keindahan, kaca yang dipasang pada bangunan-bangunan pun punya kemampuan untuk mengatur sinar matahari yang masuk kedalam sebuah bangunan. Berdasarkan teori, kaca dengan ketebalan dan jenis tertentu bisa mengurangi intensitas yang masuk. Sifat ini digunakan oleh para arsitek untuk meredam panas yang masuk ke dalam ruangan terutama di daerah tropis, seperti indonesia.

     Sementara di daerah berhawa sejuk dan dingin, jenis kaca yang banyak meneruskan sinar sering digunakan untuk mendapatkan efek pemanasan. Dengan mempertimbangkan kondisi wilayah, maka pemilihan kaca yang tepat memungkinkan sebuah gedung memperoleh efek penyinaran yang pas.

     Lepas dari persoalan makro bangunan itu, penempatan jendela-jendela kaca pada sebuah gedung mestinya harus diperhitungkan secara serius. Soalnya hal ini sangat menentukan apakah sebuah gedung bisa mendapatkan penyinaran optimal atau tidak.

     Jendela merupakan salah satu komponen penting yang diperhatikan sebagai sumber pencahayaan dalam mengatur suhu ruangan. Peran jendela juga sampai pada soal pemanasan suhu ruangan, proses pendinginan, dan pertukaran udara kedalam dan keluar ruangan. Lebih dari itu jendela juga dipandang sebagai sebuah aksen yang estetik.

     Lantaran begitu pentingnya jendela, sampai-sampai para perencana gedung bangunan sangat memperhatikan keberadaan jendela ini. Dengan kaca yang terpasang pada jendela maka cahaya yang tidak dikehendaki di musim panas bisa dicegah, misalnya dengan memantulkan sinar infra merah. Sementara di musim dingin, penggunaan kaca yang berlapis (bahan transparan tipis) akan menurunkan radiasi panas yang memantul ke dalam gedung. Dengan demikian akan meningkatkan nilai penyinaran yang melewati jendela.        Salah satu kaca yang paling banyak dipakai adalah kaca bening. Kaca ini merupakan kaca dengan permukaan yang sangat bersih, rata, dan bebas distorsi. Akibatnya hampir sebagaian besar sinar yang lewat (90%) akan diteruskan. Kaca ini banyak dipakai pada bagian luar dan dalam bangunan. Baik untuk rumah tinggal, bangunan umum, perkantoran, pertokoan, bangunan tinggi, dll.

     Tingkat ketebalan kaca bening ini mulai dari 2 mm – 19 mm. Pada ketebalan 3 mm, energi sinar yang diteruskan sebesar 85%, dipantulkan 8%, sementara yang diserap 7%. Sedang pada tingkat ketebalan 8 mm, sinar yang diteruskan sebesar 75%, dipantulkan 7%, dan diserap 14%  

     Sementara kaca warna merupakan kaca yang diberi warna dengan menambahkan sedikit logam pewarna seperti koblat, besi, silinieum, dll pada bahan baku kaca. Dengan pemberian warna, kaca warna akan mempunyai kemampuan untuk menyerap sebagian panas matahari (rata-rata daya serapnya 55%) sehingga akan mengurangi beban pendingin ruangan dan memberikan rasa nyaman pada penghuni bangunan.

     Karena kemampuan meneruskan cahaya pada kaca warna, jauh lebih rendah dari kaca bening (90%), maka cahaya-cahaya yang menyilaukan akan dapat dikurangi menjadi lebih lembut dan sifat daya tembus pandangnya menjadi rendah. Sehingga sepanjang hari, dimana tingkat penerangan diluar lebih terang dibandingkan di dalam bangunan, kaca warna ini dapat melindungi kebebasan pribadi penghuninya.

Warna kaca warna antara lain blue dan dark bluelight bluegreydan dark greybronze, dan dark greenlight green. Warna-warna itu akan memberikan penampilan menawan pada bangunan dan tidak akan banyak mempengaruhi beda penglihatan dari warna-warna benda diluar bangunan jika dilihat dari dalam ruangan pada siang hari.

     Perlu diingat makin tebal kaca warna, maka warna akan semakin gelap dan tingkat penyerapan panasnya akan semakin tinggi. Dalam hal penghantaran panas kaca warna mempunyai sifat yang lebih lunak dalam menghantarkan panas matahari. Kaca warna dark blue dengan ketebalan 3 mm misalnya, akan meneruskan panas sebesar 63%, memantulkan 6%, sementara sisanya sebesar 31% diserap. Pada ketebalan 6 mm, 43% energi sinar diteruskan, 5% dipantulkan, dan 52% sisanya diserap.

     Untuk mempercantik penampilan kaca diproses lagi dan dilapisi dengan pelapis transparan tipis dari oksida logam (sebagai lapisan pemantul) melalui proses pyrolysis yang merupakan proses canggih dari teknologi glaverbel, Belgia. Lapisan kaca reflektif ini memiliki daya tahan dan kualitas penampilan yang tetap. Kaca ini juga akan memantulkan cahaya dan panas sekaligus menurunkan beban energi pengkondisian udara. Pelapis ini dilapiskan hanya pada satu sisi kaca dan terdiri dari tiga jenis coating yaitu silversupersilver, dan classic.

     Meskipun memantulkan sebagian besar cahaya dan energi matahari, namun masih memiliki transmisi cahaya yang baik, sehingga suasana luar masih bisa dnikmati, tidak silau dan tidak melelahkan mata.

     Pada kaca coating dengan warna dark blue setebal 5 mm maka sinar yang diteruskan sebesar 47%, dipantulkan 29%, sementara sinar ultra violet yang akan diteruskan cuma sebesar 22%.

     Ketiga jenis kaca diatas yaitu: kaca bening, warna, dan coating merupakan jenis kaca yang paling banyak digunakan dalam dinding dan jendela yang berhubungan dengan langsung dengan sinar matahari. Disamping bersifat dekoratif, pemilihan jenis serta ketebalan yang tepat akan dapat mengurangi intensitas penyinaran yang nyata.

Polusi dalam gedung

     Kendati sebuah gedung menggunakan kaca dan memakai AC untuk “menjinakkan” panasnya udara luar, bukan berarti orang-orang yang tinggal didalamnya bebas polusi. Polusi jenis ini sumber terbesarnya justru datang dari dalam gedung itu sendiri. 

     Kondisi inilah yang kemudian memunculkan istilah sick building syndrom (sindrom gedung sakit). Menurut Prof. Dr. Juli Soemirat Slamet, MPH, Ph.D, ahli lingkungan dari ITB, sindrom gedung sakit adalah gejala-gejala gangguan kesehatan, umumnya berkaitan dengan saluran pernapasan. Sekumpulan gejala ini diidap oleh orang yang hidup atau bekerja di gedung atau rumah yang ventilasinya tidak direncanakan dengan baik.

     Gangguan ini bukan berupa penyakit yang spesifik, tetapi merujuk pada standar tertentu. Misalnya saja berapa kali seseorang dalam jangka waktu tertentu menderita gangguan saluran pernafasan. Sementara secara lebih spesifik dalam Intisari, Juni 1998,  dr. Tjandra Yoga Aditama, D.S.P., D.T.M & H, dokter spesialis paru mengatakan, “Keluhan-keluhan yang ditemui pada sindroma ini antara lain batuk-batuk kering, sakit kepala, iritasi di mata, hidung, badan lemah, dll.” Menurutnya keluhan-keluhan tersebut biasanya menetap setidaknya dalam waktu dua minggu. Sindrom gedung sakit baru dapat dipertimbangkan bila lebih dari 20% pengguna gedung mempunyai keluhan-keluhan di atas.

     Berdasarkan penelitian The National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) ada enam sumber utama pencemaran udara di dalam gedung. Yaitu pencemaran alat-alat di dalam gedung (17%), pencemaran dari luar gedung (11%), pencemaran bahan bangunan (3%), pencemaran mikroba (5%), gangguan ventilasi (52%), dan sumber yang tidak diketahui (12%).

  Juli Soemirat menengarai salah satu penyebab gedung sakit lantaran pengelola gedung tidak menghitung secara benar berapa banyak AC yang dibutuhkan. Umumnya yang diperhatikan hanya asal dingin. Padahal semakin dingin sebuah ruangan semakin banyak orang berkumpul sehingga makin banyak yang terkena dampak buruk.

     Dari pengamatannya, Juli Soemirat melihat bahwa banyak filter AC tidak pernah dicuci dan diberi desinfektan. Padahal asalkan patokan pembersihan filter dilakukan dengan benar, maka akan mencegah berkembangnya sindrom gedung sakit. “Kami pernah melakukan penelitian terhadap beberapa gedung ber AC di Bandung dan masalah yang timbul antara lain adalah jumlah AC yang kurang memadai dan adanya bakteri patogen pada filternya,” jelas Juli Soemirat.

     Oleh karena itu, pakar lingkungan ITB ini berpendapat, untuk bisa mengatasi masalah lingkungan di negeri ini yang menjadi ujung tombak sebenarnya seorang Menteri Negara Lingkungan Hidup yang benar-benar menguasai bidangnya. Ia harus diberi wewenang untuk memberikan pertimbangan pertama yang mendahului pertimbangan lain dalam pengambilan keputusan antardepartemen.

     Di AS isu polusi udara dalam ruangan ini mencuat ketikaEnvironmental Protection Agency (EPA) pada tahun 1989 mengumumkan studi, polusi udara dalam ruangan lebih berat ketimbang di luar. Menurut EPA sebagian masyarakat justru terkena polusi di dalam ruangan. Seperti lingkungan rumah, kantor, atau di dalam mobil yang selama ini dianggap bebas polusi.

     Salah satu penyebab polusi di dalam ruangan adalah bensene – bahan kimia penyebab leukemia yang berasal dari bahan bakar, produk-produk rumah tangga, dan asap tembakau. Oleh karena itu tinggal bersama dengan perokok berisiko terpapar bensene secara luar biasa.

     Dari hasil pengamatan terungkap paparan bensene dari dalam ruangan 45% dari rokok atau perokok pasif, 36% dari gasoline seperti produk-produk lem, dan 16% berasal dari sumber lain yang ada di dalam rumah macam cat dan penyimpanan bahan bakar. Hanya 3% dari polusi industri.

     Toh tetap ada jalan keluar untuk mengurangi polusi dalam ruangan. Berdasarkan hasil penelitian Dr. B.C. Wolverton dari Wolverton Environmental Services di Picayune, Mississipi merekomendasikan 10 jenis tanaman penyaring udara paling efisien. Yaitu palem kuning, waregu, palem bambu, palem funiks, karet kebo, paku sepat, Dracaena deremensis,Hedera helixFicus maclellandi, dan Spathiphyllum speciosum.

     Tanaman-tanaman itu bisa menyerap bahan formalin (penumpas kuman), bensen (pembersih noda), dan tri kloro etilin (pelarut tinta cetak dan cat), rata-rata antara 40 – 80%. “Mereka menyaring udara secara alami,” tulis Dr. Wolverton dalam bukunya How to Grow Fresh Air, terbitan Penguin Books tahun 1997.

     Upaya pencegahan lain bisa meliputi usaha agar udara segar masuk ke dalam ruangan secara baik dan terdistribusi merata ke semua bagian di dalam suatu gedung.

     Khusus di Indonesia menurut dr. Tjandra sumber utama polusi indooradalah rokok. Jadi kalau Anda merokok hentikanlah kebiasaan itu. (G. Sujayanto)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s