Onomatope

Salah satu fenomena upaya manusia berbahasa adalah mencipta kata-kata untuk melukiskan bentuk sura atau bunyi . Dalam Ilmu Bahasa , formasi kata pelukis bunyi itu diberi nama yang cukup rumit yang membuat lidah berbelit-belit dan keselo untuk mengucapkanya ” onomatopoeia ” .

Didunia komik onomatope asyik dimanfaatkan  sebagai elemen pendukung maupun estetika . Tanpa peran onomatope , seolah-olah komik sekedar ‘ film bisu ‘ yang bahkan tanpa iringan ‘ live music ‘ , terkesan sunyi sepi , hening membisu seribu bahasa . Namun , dalam komunikasi sehari-hari pun , onomatope kerap kali memegang peran penting demi mengekpresikan aneka ragam bunyi .

Yang fenomenal , sementara bunyi-bunyian pada hakekatnya universal , sama dan seragam dimana saja , kapan saja . Naum keliru jika kita menduka bahwa onomatope juga sama dan seragam dimana dan kapan saja . Ternyata setiap bahasa memiliki tafsir saling berbeda terhadap bunyi yang sama .

Misalnya , onomatope kambing mengembek di Indonesia adalah ‘ embeek ‘ , namun  di Jerman ditafsirkan sebagai  ‘ maeh ‘ , sementara di Spanyol ‘ bee ‘ , mirip di Inggris ‘ baa ‘ .

Suara anjing menyalak di Indonesia ditafsirkan sebagai ‘ huk-huk ‘ , yang memang agak mirip dengan di Belanda ‘ wuf-wuf ‘  , namun jelas lain dari di Jerman yang ‘waf-waf ‘ atau di Norwegia ‘ vov-vov ‘ , di Spanyol ‘ guau-guau ‘ , di Perancis ‘ whou-whou ‘ , di Amerika Serikat  ‘ bow-bow ‘ . Masalah makin rumit , akibat jika kesakitan ,  suara  anjing  di Indonesia langsung berubah menjadi ‘ kaing-kaing ‘ .

Anehnya , tafsir expresif terhadap suara kucing masih mirip satu dengan yang lainnya . Suara kucing di Indonesia ditafsirkan ” meong-meong ‘ , tidak terlalu jauh dengan di China yang ‘ miau-miau ‘, atau di Irlandia ‘ meow-meow ‘ .

Suara bebek di Indonesia ‘ kwe-kwek ‘ , mirip di Inggris ‘quack-quack ‘ , tetapi entah kenapa di Perancis menjadi ‘ coin-coin ‘ .

Lebih kacau adalah onomatope suara ayam betina berkotek , di Indonesia ‘ kok-kok-petok ‘ , sementara di Italia ‘ ko-ko-day ‘ ,  dan di Skotlandia cukup ” cluck-cluck ‘.

Suara jago berkokok di Jawa Tengah ‘ ku-ku-ru-yuk ‘ , meski sebenarnya bertetangga dekat sama-sama di Jawa namun di Jawa Barat langsung berubah menjadi ‘ kong-ke-ro-ngok ‘ , apalagi nun jauh di Inggris lain sama sekali : ‘ cock-a-doodle-doo ‘ , di Belanda ‘ ku-ke-le-ku ‘ , di Jerman “‘ ki-ke-ri-ki ‘ , selafal dengan di Italia chi-chi-ri-chi , padahal kenyatannya bunyi ayam sebenarnya dimana saja miwon alias ‘ sami mawon ‘ . Tidak ada suara ayam dialek Jerman , dialek Amerika atau dialek Indonesia , apalagi Jateng , Jabar atau mana saja !

Daya imaginasi berbagai bahasa dalam upaya menafsirkan bunyi halilintar juga tidak kalah hebohnya sekaligus membingungkan ! Tafsir bahasa Jawa terhadap bunyi ( campur visualisasi ) halilintar adalah ‘ byar- byar . . . dhuer ‘ , atau bisa juga ‘ klelap . .  jlegur ‘ . Namun dalam bahasa Jerman suara halilintar yang sama bisa berbunyi sama sekali  lain yaitu : ‘ blitz .. blitz .. bum ‘ . Sementara oleh para kreator komik Amerika Serikat bunyi petir lincah diterjemahkan menjadi : ‘ zap..zap..whaam ‘ . Percaya atau tidak dalam salah satu dialek China , onomatope suara halilintar malah menjadi : ‘ lung-lung-lung . . . .bi-ye-le-lek ‘.

Ampuuun  . . . padahal pada kenyataannya gelegar halilintar dimana saja , kapan saja , sepanjang zaman , sebenarnya sama dan seragam saja . . .  begitu ta’ yee . . .patuh dogen . . .


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s